Pengertian Dan Tata Cara Perceraian Menurut Agama Islam

Kali ini dan kesempatan kali ini setelah saya membahas tenntang pernikahan saya akan menerangkan tentang Perceraian.Maka dari itu jangan sampai terjadi perselisihan pendapat, cemburu, ada orang ketiga dan tidak patut terhadap suami ataupun istri,Hindari dari hal tersebut yang menjerumuskan kita nanti ke dalam sebuah perpisahan atau perceraian, Memang  bercerai di perbolehkan akan tetapi ingat anak, anak yang tidak salah menjadi korbannya.

Tata cara perceraian menurut agama islam
Perceraian

Nabi Muhammad s.a.w bersabda:

أَ بْغَضُ الْحَلَالِ إِلَى اللهِ الطَّلَاقُ

Artinya:”Perbuatan halal yang sangat dimurkai Tuhan (Allah) ialah THALAK (Cerai).”(HR.Abu Dawud)

Maksudnya:

Wakaupun thalak (cerai) di perbolehkan namun Allah tidak meridohinya, Oleh karena itu suami istri harus menjaga hal-hal sebagai berikut:

1.Suami jangan mudah mengucapkan kata-kata “thalak” kepada seorang istri.

2.Seorang istri jangan sekali-kali mudah minta cerai kepada suaminya, apalagi dengan alasan yang dibuat-buat.

3.Bila terpaksa harus bercerai, maka perceraian tersebut jangan sampai bersifat sewenang-wenang, yang merugikan kepada salah satu pihak (Istria tau Suami).

4.Berniatlah “rujuk” kembali kepada istri pada waktu iddah thalak raj’i.

5.Hindarkanlah perceraian, Karena perceraian pada umumnya membawa kurban terutama bagi mereka yang sudah punya anak maka penderitaan akan menimpa anak-anaknya.

Tata Cara Perceraian
Seorang suami yang telah melangsungkan perkawinan menurut agama islam, yang akan menceraikan istrinya, maka caranya dengan mengajukan surat Kepada Pengadilan di tempat tinggalnya, yang berisi pemberitahuanbahwa ia bermaksud menceraikan istrinya disertai dengan alasan-alasannya serta  meminta kepada Pengadilan agar diadakan siding untuk keperluan itu.

Alasan-alasan terjadinya suatu perceraian.
1.Salah satu pihak (suami atau istri) berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar untuk di sembuhkan.

2.Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa ada alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya.

3.Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinannya berlangsung.

4.Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang mebahayakan pihak yang lain.

5.Salah satu pihak mendapatkan catat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri.

6.Antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagidalam rumah tangga.

Keterangan Penting.

1.Perceraian hanya dapat dilakukan di depan Sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.

2.Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan bahwa antara suami istri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri.

3.Tata cara perceraian di depan siding Pengadilan di atur dalam peraturan perundangan.

4.Gugatan perceraian diajukan kepada Pengadilan.

5.Tata cara mengajukan gugatan diatur dalam peraturan perundangan.
“Perceraian ini terjadi terhitung pada saat perceraian itu dinyatakan di depan pengadilan."

Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan kepada anda semua semoga artikel di atas itu bisa bermanfaat,Terima kasih sudah mau mampir dalam blog yang sederhana ini dan jangan lupa untuk share artikel ini jika apabila menurut anda penting dan banyak mengandung manfaat bagi hubungan suami istri.Saya atas nama admin minta maaf apabila ada salah-salah kata yang kurang baik di atas.Tinggalkan jejak dengan berkomentar di bawah ini mengenai upaya agar hubungan suami istri harmonis dan langgeng hingga akhir ajal menjemputnya .