Tak ada Kata Terlambat Untuk Meraih Amal Sholeh

Tidak ada kata-kata terlambat untuk meraih amal sholeh
Amal Sholeh
Hidup sebenarnya hanyalah soal menghabiskan jatah waktu bernama usia. Tiap makhluk sudah ditentukan jatah usianya semenjak ia dicipta. Maka di setiap penghujung tahun seperti ini artinya kini setahun lagi jatah usia telah kita habiskan. Ya, kita, saya dan anda semua, sebab dimensi waktu yang kita lewati adalah sama.

Sederhana memang, namun di sini pula ternyata letak persoalannya, di jatah usia yang Allah berikan itu. Tak heran mengapa begitu banyak Allah bersumpah dengan waktu: wal'ashr, wadh-dhuha, wallail, dan seterusnya. Rasulullah bahkan mengukur tingkat kesuksesan dan kualitas hidup seseorang atau kegagalannya juga melalui waktu. Beliau bersabda:

"Sebaik-baik manusia adalah yang panjang usianya dan baik amalnya. Dan seburuk-buruk manusia adalah yang panjang usianya namun buruk amalnya."

Maka dua orang dengan jatah usia yang sama, juga melewati dimensi waktu yang sama namun kualitas dan kesuksesan hidupnya jauh berbeda. Setiap tahun kita bersama-sama melewati momen pergantian tahun namun kualitas hidup kita sama sekali berbeda. Cara kita mengisi jatah waktu itulah yang membedakannya. Jika caranya baik maka hasilnya baik, sebaliknya jika caranya buruk maka hasilnya buruk.

Para pahlawan, orang-orang hebat, para penakluk, ilmuan, ulama salaf, yang telah mengukir keabadian melalui maha karya dan jasa-jasa besar yang mereka persembahkan pada dunia pada dasarnya bukanlah manusia-manusia yang diberi jatah usia yang berbeda oleh Allah. Tapi mereka adalah orang-orang yang mengisi jatah usianya dengan cara yang berbeda. Banyak di antara mereka bahkan usianya jauh lebih pendek dari pada yang lain, namun prestasinya jauh melampaui jatah usianya.

Siapa yang tak kenal Imam Syafi'i? ya, pendiri madzhab syafi'iy itu, ternyata total usia beliau tak lebih dari 53 tahun. Tapi namanya harum sepanjang masa, dan itu karena beliau menghabiskan usianya dengan cara yang berbeda.

Sang penakluk, Muhammad Alfatih, yang mendapat predikat panglima terbaik dari Rasulullah, ternyata beliau menutup usianya di umur 49 tahun. Namun bagaimana beliau mengisi masa mudanya itulah yang menghantarkannya menaklukkan Konstantinopel di usia 21 tahun.

Imam An-Nawawi pun tak jauh berbeda. Saat meninggal usia beliau 44 tahun, namun jiwa dan namanya abadi meski raga berbilang abad telah berkalang tanah.

Perbedaan cara mengisi waktu sebagai jatah usia itu ada pada dua hal:

Pertama, setiap detik adalah prestasi. Bahasa syariahnya adalah amal shaleh (baik). Dan inilah makna sesungguhnya dari firman Allah:

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."

Maka setiap aktifitas, sesederhana apapun itu, bagi para calon pahlawan dan manusia terbaik, adalah prolehanan prestasi, atau amal shaleh, atau ibadah.

Sulit diterima oleh akal sehat manapun bahwa tidak ada waktu yang terbuang sia-sia ketika Muhammad Alfatih di usia 21 tahun beliau telah mengusai strategi perang, militer, ilmu ekonomi, beladiri, politik, mempelajari upaya-upaya penaklukan para pendahulu

Ajari Anakmu Sholat

Pendidikan anak yang sangat ditekankan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah membaguskan semangat anak untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Anak diusung untuk senantiasa melatih diri beribadah. Hingga pada masanya, anak tumbuh dewasa, dirinya telah memiliki kesadaran tinggi dalam menunaikan kewajiban ibadah.

Diantara perintah yang mengharuskan anak dididik untuk menunaikan yang wajib, seperti hadits dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Suruhlah anak-anak kalian menunaikan shalat kala mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (bila meninggalkan shalat) kala usia mereka sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (Sunan Abi Dawud no. 495. Asy-Syaikh Al-Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu menyatakan hadits ini hasan shahih).

Yang dimaksud menyuruh anak-anak, meliputi anak laki-laki dan perempuan. Mereka hendaknya dididik bisa menegakkan shalat dengan memahami syarat-syarat dan rukun-rukunnya.

Jika hingga usia sepuluh tahun tak juga mau menegakkan shalat, maka pukullah dengan pukulan yang tidak keras dan tidak meninggalkan bekas, serta tidak diperkenankan memukul wajah. (Lihat ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, 2/114).

Untuk mengarahkan anak tekun dalam beribadah memerlukan pola yang mendukung ke arah hal tersebut. Seperti, diperlukan keteladanan dari orangtua dan orang-orang di sekitar anak. Perilaku orangtua yang ‘berbicara’ itu lebih ampuh dari lisan yang berbicara. Anak akan melakukan proses imitasi (meniru) dari apa yang diperbuat orangtuanya.

Syariat pun sangat tidak membuka peluang terhadap orang yang hanya bisa berbicara (menyuruh) namun dirinya tidak melakukan apa yang dikatakannya.

Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan, saya cuma berpesan kepada anda tidak ada kata terlambat untuk meraih prestasi (amal saleh ) Mulai sekarang tingkatkan amal sholeh dan berlomba-lomba dalam hal kebaikan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel